Minggu, 03 Maret 2013


TEORI BERMAIN
MENURUT PAKAR

Tiap teori yang dirumuskan kebanyakan menyinarkan semangat dan menggambarkan kekuasaan pada saat teori permainan itu dirumuskan. Adapun teori tersebut merupakan pendapat para pakar Psikologi dan biologi. Ada pula yang yang mengatagorikan teori-teori ini dalam kelompok teori klasik, sebab teori ini kebanyakan diutarakan  sebelum abad ke-20. Bigot, Kohnstamm dan Palland (1950: 272-275), dan Rob dengan Leertouwer (1990:17-19) mengutarakan beberapa pendapat para pakar tentang bermain sebagai berikut:
1.      Teori Rekreasi Atau Teori Pelepasan
Diutarakan oleh Schaller dan Lazarus seorang berkebangsaan Jerman, menerangkan bahwa permainan itu merupakan kegiatan manusia yang berlawanan dengan kerja tetapi permainan itu merupakan imbangan antara kerja dengan istirahat. Permainan merupakan kesibukan untuk menenangkan pikiran atau beristirahat. Jika energi sudah digunakan untuk melakukan pekerjaan, anak-anak menjadi lebih & kurang bersemangat, anak bermain agar tenaganya pulih kembali. Misalnya karena payah belajar maka anak-anak harus beristirahat untuk bermain-main. Orang yang merasa penat, ia akan bermain untuk mengadakan pelepasan agar dapat mengembalikan kesegaran jasmani maupun rohani.

2.      Teori Surplus Atau Teori Kelebihan Tenaga
Teori ini berasal dari Herbert Spencer ahli piker bangsa Inggris, yang menyatakan bahwa dalam diri anak terdapat kelebihan tenaga. Sewajarnya ia harus mempergunakan tenaga itu melalui kegiatan bermain. Anak mengosongkan tenaga yang berlebih didalam dirinya, yaitu tenaga yang sudah tidak digunakan lagi. Anak-anak kelebihan tenaga karena mereka tidak mempergunakan tenaganya seperti halnya orang dewasa membutuhkan banyak tenaga melakukan tugas-tugasnya. Kelebihan tenaga harus dipergunakan, paling tidak untuk bermain-main dengan demikian dapat tercapai keseimbangan didalam dirinya. Anak bermain seperti melompat, memanjat, berlari dan lain-lain merupakan manifestasi dari energi yang ada dari dalam diri anak .

3.      Teori Teleologi
Karl Groos (bangsan Jerman) yang menyatakan bahwa permainan mempunyai tugas biologik, yang mempelajari fungsi hidup sebagai persiapan untuk hidup yang akan datang. Dasar teori groos adalah prinsip seleksi alamiah yang dikemukakan oleh charles Darwin. Bayi  yang baru lahir dan juga binatang mewarisi instink yang tidak sempurna dan instink penting guna mempertahankan hidup. Tujuan bermain adalah sebagai sarana latihan dan mengelaborasi keterampilan yang diperlukan saat dewasa nanti.

4.      Teori Sublimasi
Teori ini diutarakan oleh seorang bangsa Swiss yang bernama Ed Claparede, mengutarakan bahwa permainan bukan hanya mempelajari fungsi hidup (teori Groos) tetapi juga merupakan proses sublimasi (menjadi lebih mulia, tinggi/indah) ialah dengan bermain instink rendah akan menjadi tingkat perbuatan yang tinggi.
5.      Teori Buhler
Teori Buhler diutarakan oleh arl Buhler bangsa Jerman, menyatakan bahwa permainan itu kecuali mempelajari fungsi hidup, juga merupakan “funktion lust” (nafsu berfungsi), dan aktivitats drang (kemauan untuk aktif). Selanjutnya ia mengatakan bahwa kegiatan seperti berlari, berjalan dan melompot mempunyai kegunaan bagi kehidupan kelak, disamping itu anak haruslah memiliki kemauan untuk berjalan, berlari dan melompat.

6.      Teori Reinkarnasi
Maksud teori ini ialah bahwa anak-anak  selalu bermain dengan permainan yang dilakukan oleh nenek moyangnya. Jadi anak selalu bermain permainan  yang telah dilakukan orang-orang terdahulu. Menurut Hall Kegiatan bermain pada anak  menunjukan pengalaman nenek moyang ras tertentu (pengulangsn perkembangan ras. Sebagai contoh anak yang suka bermain dengan air maka diduga bahwa nenek moyang orang tersebut adalah ikan, anak yang suka memanjat diduga nenek moyangnya adalah monyet. Teori bermain hall sangat dipengaruhi teori evolusi darwin yang pada saat itu memberikan pembaharuan baru dalam ilmu pengetahuan.

Bermain merupakan alat untuk bersosialisasi. Dengan bermain bersama anak lain, anak akan mengembangkan kemampuan memahami perasaan, ide dan kebutuhan orang lain yang merupakan dasar dari kemampuan sosial. Piaget juga mengungkapkan bahwa bermain sendiri (soliter) sampai bermain kooferatif yang menunjukan adanya perkembangan sosial anak.

Seorang tokoh filsafat, Karl Groos mengatakan bahwa anak bermain untuk mempertahankan hidupnya. Awalnya kegiatan bermain tidak memiliki tujuan namun kemudian memiliki tujuan dan sangat berguna untuk memperoleh dan melatih keterampilan tertentu dan sangat penting fungsinya bagi mereka pada saat dewasa kelak. Contoh: bayi yang menggerak-gerakan tangan , jari, kaki dan berceloteh merupakan kegiatan bermain yang bertujuan untuk mengembangkan fungsi motorik dan bahasa agar dapat digunakan dimasa yang akan datang.

Sigmund Freud berdasarkan teori Psichoanalytic mengatakan bahwa bermain berfungsi untuk mengekspresikan dorongan implusif sebagai cara untuk mengurangi kecemasan yang berlebihan pada anak. Bentuk kegiatan bermain yang ditunjukan berupa bermain fantasi,  dan imajinasi dalam sosio drama atau pada saat bermain sendiri . melalui bermain dan berfantasi anak dapat mengemukakan harapan-harapan danm  komplik serta pengalaman yang tidak dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata. Contoh: anak main perang-perangan untuk mengekspresikan dirinya, anak yang meninju boneka dan berpura-pura bertarung untuk menunjukan kekesalannya.

Teori kognitif Piaget, mengungkapkan bahwa bermain mampu mengaktifkan otak anak, mengintegrasikan fungsi belahan otak secara seimbang dan membentuk struktur syaraf, serta mengembangkan pilar-pilar syaraf pemahaman yang berguna untuk masa depan. Otak yang aktif adalah kondisi yang sangat baik untuk menerima pelajaran.

Berdasarkan kajian tersebut maka bermain sangat penting bagi anak-anak karena melalui bermain dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak.

Jumat, 23 Maret 2012

kenakalan remaja dan orang tua

Delinquency Juvenile Or Delinquency Parent


 Lately, more and more widespread phenomenon of juvenile delinquency. Even this has been happening all along. The expert psychologist always peeling problem that never was inexhaustible. Juvenile Delinquency, like a black circle that never end. Connect connects from time to time, from time to time, from year to year and even from day to day more complicated. Problem teen acquaintance is a complex problem occurs in various cities in Indonesia. In line with the current modernization and growing technology, the current relationship between the major cities and regions semkain smoothly, quickly and easily. World of increasingly sophisticated technology, as well as ease in knowing the information in various media, on the other hand also carries a considerable negative impact extends in various walks of life. Juvenile delinquency is usually done by teenagers who failed in his soul developmental processes, both during adolescence and in early childhood. Childhood and adolescence lasts so short, the physical, psychological, and emotional so quickly. Psychologically, juvenile delinquency is a manifestation of these conflicts are not resolved properly in childhood and adolescent offenders. Often found that there was trauma in her past, rude and unpleasant treatment of the environment, as well as trauma to the environmental conditions, such as economic conditions which made him feel inferior. Cope with juvenile delinquency, teenage means rearranges emotions were torn apart. Damaged emotions and feelings because they feel rejected by family, parents, friends, and the environment since childhood, and the failure of the mental development of these adolescents. Traumas in her life to be resolved, these conflicts must be resolved psychological hang, and they should be given a different environment than the previous environment. The question is: who is it all work? Did the parents? While the parents are too dizzy to think about work and other living expenses. Was his brother? They also have their own problems, they might even have the same problem. Did the government? Or who? Not easy to answer. However, providing a good environment from an early age, along with an understanding of the development of our children properly, will help reduce juvenile delinquency. At least not increase the number of cases. "(Source Whandi.net / 1 jan 1970). Delinquency, is one of the child? or parents? Because there are many parents who can not act as a parent should. They simply provide the materials and the means and facilities for the child without thinking of his inner needs. Parents also often requires a lot of things but forget to give a good example for the child. Actually we are forgetting something when talking about juvenile delinquency, the law of causality. Because, of juvenile delinquency is always crystallized into an external environment that is rarely noticed closest of environmental factors in this case the teen's parents. We always considered that many cases of juvenile delinquency due to unfavorable social environment, such as the influence of friends is not correct, the influence of mass media, to the weakness of one's faith. When we talk about faith, we questioned the value and usually forget something, namely the influence of parents. Educated parents who either could be a major factor of the onset of delinquency sosiopsikologis yourself a teenager. Moreover, if the case of negative attacks the parents of the teenagers, such as infidelity, divorce, division of property and Gono-gini. Maybe we need to take a new term, parental delinquency. Parents, often forget that his behavior resulted in her children. Because life is not separated from contek-ever cheating behavior. It could also be because there is the omission of the behaviors that lead to error, so that one becomes a habit. Parents should not expect their children to be good, if the parents themselves have to be good. Generasai conscience actually want to appeal â € Å“Jangan teach us to cheat, do not teach us to talk dirty, dishonest, lazy learning, worship lazy, too fond of treasure belebihan and forget the Creator, namely Allah.â €? This paper tries to invite contemplation for us as parents, that delinquency is not always synonymous with youth, but just a lot of mischief done by the parents (at home, in society and in government) who eventually also became the inspiration for naughty teenagers. Sad indeed! (Source O. Solihin) Juvenile's parents in family ties Examples such as: Prefer to speak harshly, like blasphemy or cursing, teach children to fight as child bullied others, like to hurt the child physically and psychologically, smoking casually in front of children, dl (moral issues). Ignore the implementation of Shari'a, such as prayer, we are also a lot of parents who neglect prayers, neglect of prayer, not even pray, let the girls do not close the genitals, let the children mix freely (courtship), let their children drink hardware, etc.. Juvenile's parents in the community Examples such as: Create an atmosphere that is not productive (their fathers), for example the morning, afternoon and evening gaple like to hang out while playing, or play chess, although not made of money, this is the same meaning does not maintain self-respect, let alone the honor of his family (wife and children son)? While the mothers get together with like berghibah or defamatory, spending money with a consumptive lifestyle that is shopping at the mall or supermarket, luxury lifestyle. Provides a means of disobedience, for example, be a drug dealer, so bookies, providing a place of entertainment (discos). Educators are negligent, we can see at school or in college, but the institution is a safe place to gain knowledge or learning, but in reality, many educators are giving a bad example to their students, for example, perform immoral acts, mistreat their students physically, to sell the material or knowledge for the benefit of education are sinning. Being the owner of the mass media (both print and electronic: newspapers, magazines, tabloids, radio, television, and internet) that â € ~ hobiâ € ™ featuring readings, images and spectacle that corrupts (pornography, violence, and sex) are refuge in the name of the business. Juvenile's parents in government Examples such as: Like corruption, take a drive up the cost of education policy, raise fuel prices, high cost of health care, like making promises but then forget about it, like doing extortion or bribery. Like to perpetuate disobedience, gave permission for the business of prostitution / brothels, gambling, where discotheques, liquor factory, on the pretext of its revenue. Blind eye to the problem that caused the business of prostitution, gambling, drugs, liquor circulation, discos, etc.. Applying the rules of life that is not true and good, that is capitalism, secularism (including socialism and communism). Let us describe items advice or the advice that we give as a parent to our children when we do and not do it: We prohibit our children roughly speaking, when we used to say harsh words to our children. We forbid our children to fight or light hand, but we often persecute them our children physically, we like to fight in front of our children, like fist fights in the legislature buildings respectable forum when in session because they do not agree, that the witness our children live on television. We forbid our children to lie or be honest, but how many lies that we create for our children. We prohibit our children taking drugs, even though we ourselves are the users and drug dealers themselves. We forbid our children to mix freely or courting, when we ourselves are doing the same thing to mix freely in the environment both communities, as well as office environments known as cheating. We prohibit our children drinking and gambling, but we are bookies and factory owners and menuman hard drinker and gambler. We forbid our children to smoke, but dirikita have often burn the money, with the smoke in front of their eyes, and we also sell cigarettes and tobacco factory owner. We get upset when our children do not pray, or worship, but we prefer not even fulfill the obligation neglect prayer. We urge that our children do not consume pornography impressions, but dirikita are watching, reading, accessing pornographic sites, even we who have the print media, writers, media buying pornography. We forbid our children to watch television continuously, when we consume the most major broadcast television to no sleep. We often advise our children not to berghibah or slander other people, but who likes berghibah dirikitalah and defame it. We get upset when children know and we often hang out at night, but we also do the same thing, sometimes a new dawn of time to go home. We advise our children to be diligent in school, but we are too lazy to work, often absent from the office. We complain about why our children are lazy to read, but we also very rarely have a habit of reading. We often teach our children they do not fight for his parents, when we used to be like our parents' fighting. We know our children get upset when they steal, but we often steal state money, or often get a fortune that is not kosher.

Senin, 12 September 2011

taaruf

Taaruf adalah kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya[rujukan?]. Bisa juga dikatakan bahwa tujuan dari berkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh. Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke jenjang khitbah - taaruf dengan mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar saling mengenal Sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan, taaruf sangat berbeda dengan pacaran. Taaruf secara syar`i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah[]. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan dan manfaat. Jika tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina, dan maksiat. Taaruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan Proses taaruf Dalam upaya ta’aruf dengan calon pasangan, pihak pria dan wanita dipersilakan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan. Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya. Tidak boleh dilakukan cuma berdua saja. Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya. Jadi,taaruf bukanlah bermesraan berdua,tapi lebih kepada pembicaraan yang mendalami tentang pribadi Tujuan Taaruf Taaruf adalah media syar`i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan[rujukan?]. Sisi yang dijadikan pengenalan tak hanya terkait dengan data global, melainkan juga termasuk hal-hal kecil yang menurut masing-masing pihak cukup penting, misalnya masalah kecantikan calon istri, dibolehkan untuk melihat langsung wajahnya dengan cara yang saksama, bukan cuma sekadar curi-curi pandang atau melihat fotonya. Islam telah memerintahkan seorang calon suami untuk mendatangi calon istrinya secara langsung[ bukan melalui media foto, lukisan, atau video. Cara melakukan Taaruf (perkenalan) untuk Pernikahan Banyak orang yang tidak tahu bagaimana cara taaruf yang efektif bagi pasangan yang mau menikah. Nah, Di bawah ini merupakan cara-cara efektif untuk melakukan perkenalan diantara pasangan yang mau menikah, yaitu: 1.Bertanyalah kepada orang yang dianggap paling dekat dengan calon tersebut yang dapat dipercaya sehingga Insya Allah informasi yang kita dapatkan cukup objektif. 2.Untuk mendapatkan kemantapan, lakukanlah sholat istikharah dan mohonlah kepada Allah karena Dia yang paling tahu mana yang terbaik untuk kita. 3.Setelah memiliki kecendrungan yang kuat untuk mempersunting maka langkah selanjutnya adalah perkenalan (ta'aruf) antar keduanya secara lebih dekat yaitu secara langsung, namun tetap menjaga norma-norma Islam. 4.Setelah itu, maka diteruskan dengan proses berikutnya sampai akad nikah. Tentu dalam hal ini kedua keluarga memiliki kontibusi yang sangat dominan. Karena keterangan no 1-3 baru menjelaskan bagaimana mengenali sang calon tanpa pacaran. Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/1825422-cara-melakukan-taaruf-perkenalan-untuk/#ixzz1Xj0DKZGY Pada hakikatnya wajah seorang wanita itu bukan aurat, jadi tak ada salahnya untuk dilihat Lalu bagaimanakah kiat-kita ta’aruf Islami yang benar agar nantinya tercipta rumah tangga sakinah mawaddah warohmah, berikut pengalaman penulis 14 tahun lalu yaitu : 1.Melakukan Istikharoh dengan sekhusyu-khusyunya Setelah ikhwan mendapatkan data dan foto, lakukanlah istikharoh dengan sebaik-baiknya, agar Allah SWT memberikan jawaban yang terbaik. Dalam melakukan istikharoh ini, jangan ada kecenderungan dulu pada calon yang diberikan kepada kita. Tapi ikhlaskanlah semua hasilnya pada Allah SWT. Luruskan niat kita, bahwa kita menikah memang ingin benar-benar membentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Seseorang biasanya mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang diniatkannya. 2.Menentukan Jadwal Pertemuan (ta’aruf Islami) Setelah Ikhwan melakukan istikharoh dan adanya kemantapan hati, maka segerlah melaporkan pada Ustadz, lalu Ustadz pun memberikan data dan foto kepada Ustadzah (guru akhwat), dan memberikan data dan foto ikhwan tersebut kepada Akhwat. Biasanya akhwat yang memang sudah siap, Insya Allah setelah istikharoh juga segera melaporkan kepada Ustadzahnya. Lalu segeralah atur jadwal pertemuan ta’aruf tersebut. Bisa dilakukan di rumah Ustadzah akhwatnya. Memang idealnya kedua pembimbing juga hadir, sebagai tanda kasih sayang dan perhatian terhadap mutarabbi (murid-murid). Hendaknya jadwal pertemuan disesuaikan waktunya, agar semua bisa hadir, pilihlah hari Ahad, karena hari libur. 3.Gali pertanyaan sedalam-dalamnya Setelah bertemu, hendaknya didampingi Ustadz dan Ustadzah, lalu saling bertanyalah sedalam-dalamnya, ya bisa mulai dari data pribadi, keluarga, hobi, penyakit yang diderita, visi dan misi tentang rumah tangga. Biasanya pada tahap ini, baik ikhwan maupun akhwat agak malu-malu dan grogi, maklum tidak mengenal sebelumnya. Tapi dengan berjalannya waktu, semua akan menjadi cair. Peran pembimbing juga sangat dibutuhkan untuk mencairkan suasana. Jadi tidak terlihat kaku dan terlalu serius. Dibutuhkan jiwa humoris, santai namun tetap serius. Silakan baik ikhwan maupun akhwat saling bertanya sedalam-dalamnya, jangan sungkan-sungkan, pada tahap ini. Biasanya pertanyaan-pertanyaan pun akan mengalir. 4.Menentukan waktu ta’aruf dengan keluarga akhwat Setelah melakukan ta’aruf dan menggali pertanyaan-pertanyaan sedalam-dalamnya, dan pihak ikhwan merasakan adanya kecocokan visi dan misi dengan sang akhwat, maka ikhwan pun segera memutuskan untuk melakukan ta’aruf ke rumah akhwat, untuk berkenalan dengan keluarga besarnya. Ini pun sudah diketahui oleh Ustadz maupun Ustadzah dari kedua belah pihak. Jadi memang semua harus selalu dikomunikasikan, agar nantinya hasilnya juga baik. Jangan berjalan sendiri. Sebaiknya ketika datang bersilaturahim ke rumah akhwat, Ustadz pun mendampingi ikhwan sebagai rasa sayang seorang guru terhadap muridnya. Tetapi jika memang Ustadz sangat sibuk dan ada da’wah yang tidak bisa ditinggalkan, bisa saja ikhwan didampingi oleh teman pengajian lainnya. Namun ingat,ikhwan jangan datang seorang diri, untuk menghindarkan fitnah dan untuk membedakan dengan orang lain yang terkenal di masyarakat dengan istilah ’ngapel’ (pacaran). Hendaknya waktu ideal untuk silaturahim ke rumah akhwat pada sore hari, biasanya lebih santai. Tapi bisa saja diatur oleh kedua pihak, kapan waktu yang paling tepat untuk silaturahim tersebut. 5.Keluarga Ikhwan pun boleh mengundang silaturahim akhwat ke rumahnya Dalam hal menikah tanpa pacaran, adalah wajar jika orang tua ikhwan ingin mengenal calon menantunya (akhwat). Maka sah-sah saja, jika orang tua ikhwan ingin berkenalan dengan akhwat (calon menantunya). Sebaiknya ketika datang ke rumah ikhwan, akhwat pun tidak sendirian, untuk menghindari terjadinya fitnah. Dalam hal ini bisa saja akhwat ditemani Ustadzahnya ataupun teman pengajiannya sebagai tanda perhatian dan kasih sayang pada mutarabbi. 6.Menentukan Waktu Khitbah Setelah terjadinya silaturahim kedua belah pihak, dan sudah ada kecocokan visi dan misi dari ikhwan dan akhwat juga dengan keluarga besanya, maka jangalah berlama-lama. Segeralah tentukan kapan waktu untuk mengkhitbah akhwat. Jarak waktu antara ta’aruf dengan khitbah, sebaiknya tidak terlalu lama, karena takut menimbulkan fitnah. 7.Tentukan waktu dan tempat pernikahan Pada prinsipnya semua hari dan bulan dalam Islam adalah baik. Jadi hindarkanlah mencari tanggal dan bulan baik, karena takut jatuh ke arah syirik. Lakukan pernikahan sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW, yaitu sederhana, mengundang anak yatim, memisahkan antara tamu pria dan wanita, pengantin wanita tidak bertabarruj (berdandan),makanan dan minuman juga tidak berlebihan. Semoga dengan menjalankan kiat-kiat ta’aruf secara Islami di atas, Insya Allah akan terbentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah…yang menjadi dambaan setiap keluarga muslim baik di dunia maupun di akhira

ADHD

Beberapa teori yang sering dikemukakan adalah hubungan antara neurotransmiter dopain dan epinefrina. Teori faktor genetik, beberapa penelitian dilakukan bahwa pada keluarga penderita, selalu disertai dengan penyakit yang sama setidaknya satu orang dalam keluarga dekat. Orang tua dan sodara penderita ADHD memiliki resiko sehingga 2-8 x terdapat gangguan ADHD. Teori lain menyebutkan adanya gangguan disfungsi sirkoit neuron di otak yang dipengaruhi oleh berbagai gangguan neurotransmiter sebagai pengatur gerak dan control aktivitas diri. Faktor resiko yang meningkatkan terjadinya ADHD kurangnya deteksi dini gangguan pada masa kehamilan (infeksi, genetic, keracunan obat, alkohol dan rokok, serta stress psikogenic). Gangguan pada masa persalinan (premature, postmatur, hambatan persalinan, induksi, kelainan persalinan). Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif:  Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas  Kenali kelebihan dan bakat anak  Membantu anak dalam bersosialisasi  Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguatan positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberi disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilakua anak  Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya  Menerima keterbatasan anak  Membangkitkan rasa percaya diri anak  Tetapkan sebuah tugas sederhana untuk dilakukan oleh anak setiap hari, seperti; membereskan mainannya, meletakan handuk sehabis mandi, dll. Cara ini dapat melatih anak berkonsentrasi.  Kembangkan keterampilan anak mengatur waktu dengan mengajak membuat jadwal harian  Mengatur rutinitas anak berolahraga  Bekerja sama dengan guru disekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya  Disamping itu, anak bisa juga malakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Contohnya dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orang tua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya. Solusi Diketahui ada dua cara mengatasi untuk menangani ADHD; yaitu Parmacological dan nonpharmacological. Penanganan Parmacological diterapkan tergantung pada hasil diagnosa dokter dan psikolog. Umumnya memberikan obat-obatan. Selama terapi ini, orang tua harus senantiasa berhubungan dengan dokter . hal yang penting diperhatikan saat terapi adalah dampak obat terhadap anak, seperti: penutunan berat badan, perubahan selera makan, sulit tidur malam, dan cenderung mengalami kepanikan. Nonpharmacological adalah cara alternatif menangani ADHD tanpa obat, yaitu: pendidikan khusus, terapi perilaku, dan psikoterapi seluruh keluarga. Hingga saat ini para ahli masih meneliti dampak penanganan alternatif ini dalam mengembangkan disiplin dan rasa tanggung jawab pada anak pengidap ADHD. Terapi yang diberikan untuk tatalaksana pasien ADHD harus dilaksanakan secara menyeluruh, dimulai dengan edukasi dengan keluarga, terapi perilaku hingga pelaksanaan dengan obat-obatan farmasi. Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah: a. Terapi obat-obatan Terapi penunjang terhadap impuls-impuls hiperaktif dan tidak terkendali, biasanya digunakan anti depresan seperti: Ritalin, Dexedrine, Desoxyn, Adderal, Cylert, Buspar dan Clonidine b. Terapi nutrisi dan diet Keseimbangan karbohidrat dan protein c. Terapi biomedis Suplement nutrisi, definiensi mineral, dan gangguan asam amino d. Terapi Behavior Terapi Cognitif behaviour untuk membantu anak dengan ADHD untuk beradaptasi skill dan memperbaiki kemampuan untuk memecahkan masalah. >contoh kasus ADHD

Rabu, 27 Juli 2011

contoh kartu iuran pembangunan

Ketua penyelenggara
Kober Awwalul hidayah

INEN SAPUTRA
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)
KOBER AWWALUL HIDAYAH
Dsn. Pasirgede RT 05 RW 05 Ds Cimarias kec. Pamulihan
KARTU IURAN BANGUNAN
Nama :
Alamat :
Angsuran 1



Angsuran 2 Angsuran 3




Angsuran 4 Angsuran 5 Angsuran 6




Ketua penyelenggara
Kober Awwalul hidayah

INEN SAPUTRA

Selasa, 21 Juni 2011

contoh laporan perkembangan anak usia dini

Nama anak didik : Elsa maelani
Kelompok : A (4-5 tahun)
Semester : 2
Tahun pelajaran :2010-2011

A. PEMBIASAAN
1. MORAL DAN NILAI-NILAI AGAMA
Syukur Alhamdulillah ananda Elsa dalam aspek ini menunjukan perkembangan yang baik terutama dalam melakukan kegiatan berdoa sebelum dan sesudah kegiatan dengan sikap yang khusu mengangkat kedua tangan, mampu menirukan gerakan ibadah seperti wudhu dan dhalat dengn tertib dan hikmat, mulai terbiasa mengucapkan kata-kata santun seperti terimakasih namun pembiasaan mengucapkan kata tolong dan maaf ketika melakukan kesalahan masih perlu ditingkatkan. Untuk membantu ananda dalam aspek ini yaitu dengan cara menceritakan tentang anak manis yang berkata santun dan suka meminta maaf, memberikan teladan melalui pembiasaan.
2. SOSIAL EMOSIONAL DAN KEMANDIRIAN
Alhamdulillah dalam aspek ini ananda Elsa telah menunjukan perkembangan yang memuaskan. Terutama dalam kemandirian, berani berangkat ketempat belajar tanpa diantar walaupun cukup jauh, mampu melakukan kegitannya sendiri dan menyelesaikannya tanpa bantuan, perilaku berempati dan berbagi sudah muncul, mampu bermain dengan teman namun terkadang msih sulit mengontrol emosi kesedihan dan kekecewaan ananda langsung menangis karena direbut mainannya terkadang sampai tak bias dibujuk.
B. KEMAMPUAN DASAR
1. BERBAHASA
Perkembangan ananda Elsa dalam aspek ini telah baik. Terutama dalam membedakan berbagai macam suara, komunikasi dengan artikulasi yang baik, menyatakan sebab akibat, mampu merangkai huruf sebagai perkembangan belajar membaca. Bantu annda agar memiliki keberanian mengungkapkan perasaannya melalui bahasa di depan umum.
2. KOGNITIF
Alhamdulillah dalam aspek ini ananda mampu berkembang sesuai harapan. Ananda mampu melakukan pengelompokan benda yang sejenis, membedakan ukuran, membilang, menyelesaikan suatu masalah sederhana tertarik pada penjumlah dan pengurangan.
3. FISIK/MOTORIK
Alhamdulillah dalam aspek ini ananda Elsa menunjukkan perkembangan yang baik. Mampu melakukan gerakan motorik kasar dengan seimbang tanpa jatuh. Keterampilan motorik halus pun berkembang dengan baik koordinasi antara mata dan gerakan tubuh telah terjaga, mampu menirukan membuat tulisan kata, menggunting dan melipat walaupun kurang sabar dan mudah bosan. Untuk membantu ananda lebih terampil dalam melipat bimbinglah ananda dengan latihan melipat beberapa lipatan membentuk binatang atau gambar tertentu.
4. SENI
Alhamdulillah perkembangan ananda dalam aspek ini cukup baik. Ananda mampu menyanyikan beberapa lagu dengan tempo yang benar, menirukan gerakan tari sesuai dengan irama music. Namun dalam menggambar ananda masih kebingungan menentukan objek yang akan digambar dan kurang mempercayai kemampuan diri sendiri. Untuk membantu ananda dalam perkembangan ini berikanlah ananda pengetahuan akan berbagai macam bentuk binatang, buah, atau benda dan motivasi agar mau menggambarkannya sendiri.
Ketidak hadiran Sakit 2
Izin 3
Tanpa keterangan
Tanda tangan
Nama jelas Guru/tutor
Mengetahui:
Orangtua siswa Sumedang, juni 2011
Penyelenggara,


Inen Saputra

Jumat, 29 April 2011

My Profile: Pendidikan Anak Usia Dini

My Profile: Pendidikan Anak Usia Dini: "Perkembangan anak berlangsung secara berkesinambungan yang berarti bahwa tingkat perkembangan yang dicapai pada suatu tahap diharapkan menin..."